4 Aksi Nekat Jalan Kaki Lintas Pulau Jawa


Unjuk rasa atau demonstrasi menjadi cara yang lazim digunakan untuk menyampaikan aspirasi atas ketidakadilan yang dirasakan. Namun seringkali, cara ini tidak ampuh lagi menggugah rasa peduli pihak-pihak yang dituntut.

Protes hanya didengarkan dan ditampung tanpa ada upaya menindaklanjuti. Akhirnya cara yang lebih ekstrem dipilih untuk menyuarakan derita yang dirasakan, seperti jalan kaki puluhan hingga ratusan kilometer.

4 Aksi nekat jalan kaki lintas pulau jawa

Di Klaten, Jawa Tengah, sepasang suami istri ditemani empat cucunya nekat berjalan kaki dari Klaten, Jawa Tengah, menuju Jakarta, untuk menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). 

Mereka menuntut keadilan kepada Presiden SBY, Komnas HAM dan Mahkamah Agung (MA), atas kasus pengrusakan rumah miliknya yang dilakukan sekelompok orang pada 1998 silam.

Sebelumnya ada seorang bapak asal Malang, Indra Azwan yang berusaha mencari keadilan atas kematian anaknya Rifky Andika yang menjadi korban tabrak lari seorang polisi bernama Joko Sumantri pada 1993. 

Ada juga aksi jalan kaki yang dilakukan karena perintah gaib melalui mimpi seperti yang dilakukan Ahmatdi Efendi. Warga Surabaya itu mengaku diperintahkan seorang wanita melalui mimpinya untuk bertemu dengan Jokowi di Jakarta. Dia pun menjalankan perintah itu dan selama 11 hari berjalan menuju ibu kota.

Berikut kisah-kisah aksi jalan kaki tersebut:

1. Indra Azwan


Indra Azwan (53) seorang pria asal Malang, Jawa Timur kembali datang ke Jakarta dengan berjalan kaki untuk ketiga kalinya. Dia menagih janji kepada Presiden SBY yang akan membantu mengusut kematian anaknya Rifky Andika (12) yang ditabrak lari oleh polisi pada 8 Febuari 1993 silam.

Dalam kesempatan yang ketiga ini, Indra berjalan kaki seorang diri dari Malang, Jawa Timur. Dia berangkat pada 18 Februari 2012 dan tiba sebulan kemudian di Jakarta pada Minggu 18 Maret 2012. Tanpa lelah, dia menempuh perjalanan selama 30 hari dari Malang ke Jakarta.

"Saya ke sini untuk meminta ketegasan Presiden," ujar Indra saat ditemui di gedung LBH, Jakarta Pusat, Senin (19/3).

Dalam aksinya yang ketiga ini, Indra membawa kembali uang Rp 25 juta yang pernah diberikan pihak Istana. Uang itu akan dikembalikan karena dia merasa tidak ada langkah konkret yang dilakukan aparat terhadap kasus kematian anaknya. 

Pada 2008, Pengadilan Militer Tinggi III Surabaya membebaskan terdakwa Joko, polisi yang menabrak anaknya. Majelis hakim berpendapat kasus itu telah kedaluwarsa karena melewati batas waktu 12 tahun. 

Usai mengembalikan uang kepada pihak Istana, Indra berniat jalan kaki sampai Mekkah, Arab Saudi. Namun aksinya gagal karena saat melintas Myanmar, dia hanya mendapat izin dua hari yang tidak mungkin ditempuhnya untuk menuju Bangladesh. Indra kembali ke Jakarta naik pesawat, dan Februari 2013 mendatang, dia akan melanjutkan aksinya ke Mekkah, tapi dengan naik pesawat.

2. Hari Suwandi


Hari Suwandi adalah warga Desa Kedungbendo, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo. Dia mengaku sebagai korban semburan lumpur Lapindo. Rumah dan tempat usahanya, kini sudah tidak ada lagi karena tenggelam oleh lumpur.

Dari Sidoarjo, dia berjalan kaki selama 25 hari. Suwandi tiba di kantor KontraS, Jl Borobudur, Jakarta, Minggu 8 Juli 2012. Dia berangkat dari Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, pada 14 Juni 2012.

Saat tiba di Jakarta, dia berencana menemui Presiden SBY untuk mewakili warga korban menuntut penyelesaian ganti rugi. Suwandi menuturkan, alasan dia berjalan kaki untuk menuntut keadilan, karena dia mewakili warga yang tidak memiliki aset. Sebab berdasarkan Perpres 14/2007, korban lumpur Lapindo yang mendapatkan ganti rugi adalah mereka yang memiliki aset seperti tanah dan bangunan yang dapat dibuktikan melalui sertifikat atau bukti tertulis lainnya.

Suwandi juga sempat beraksi di depan gedung Bakrie Tower II di kawasan Kuningan Jakarta. Berlumur lumpur, dia berguling-guling depan gedung tersebut.

Namun, yang mencengangkan, setelah luntang-lantung di Jakarta selama beberapa hari, sikapnya malah berubah. Di sebuah stasiun TV swasta, dalam sebuah acara bincang-bincang, dia meminta maaf kepada Aburizal Bakrie karena telah mencemarkan pemilik Bakrie grup itu dengan aksinya. Aksi Suwandi ini dikecam oleh para korban lumpur yang diklaim diwakilinya. Dia dituding telah menerima uang dari pihak tertentu untuk membuatnya berubah pikiran.

3. Mbah Sutrisno dan 4 cucunya


Aksi jalan kaki dipilih Mbah Sutrisno (66), Mbah Suwarsih (58) dan empat orang cucunya, Suhartadi (19), Alip Nur (11), Sujabar Sidik (9) serta Bambang (4,5). Mereka adalah warga Desa Talangan, Kecamatan Pedan Klaten,

Mereka berenam, nekat berjalan kaki dari Klaten, Jawa Tengah, menuju Jakarta, untuk menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Mereka menuntut keadilan kepada Presiden SBY, Komnas HAM dan Mahkamah Agung (MA), atas kasus pengerusakan rumah miliknya yang dilakukan sekelompok orang pada 1998 silam.

Anehnya, korban yang melaporkan kasus tersebut justru dijadikan tersangka dan ditahan oleh polisi. Sementara, pelaku pengrusakan hingga saat ini masih bebas berkeliaran dan tak tersentuh hukum.

Setelah kejadian itu, ia lantas melaporkannya ke polisi. Namun, betapa kagetnya Sutrisno karena ia justru dijadikan tersangka dan ditahan. Sutrisno dan istrinya beserta empat cucunya berangkat dari Klaten sejak tanggal 12 November 2012 lalu. Sutrisno hanya membawa sebuah sepeda onthel yang digunakan untuk mengangkut bekal dan membawa cucunya yang paling kecil.

Untuk keperluan makan selama perjalanan, Sutrisno mengaku kerap mendapat bantuan dari warga yang bersimpati sepanjang perjalanan.

"Harapan kami Pak Presiden (SBY) berkenan menerima kedatangan kami di Istana Negara, serta dapat mengambil keputusan yang tepat, sehingga kami dapat mendapatkan keadilan yang sudah 14 tahun yang tidak juga kami peroleh," harapnya.

4. Ahmatdi Efendi


Kalau aksi jalan kaki yang ini karena alasan yang unik. Ahmatdi Efendi, pria asal Surabaya, Jawa Timur rela berjalan kaki dari Surabaya menuju Jakarta hanya untuk bertemu Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi). Dengan bermodal uang Rp 2 ribu, hal itu dilakukan sebagai nazar Ahmatdi ketika mengetahui Jokowi berhasil menjadi orang nomor satu di Ibu Kota.

Ke Jakarta, dia membawa poster bertuliskan, 'Saya punya hajat kalau Pak Jokowi jadi Gubernur Jakarta, saya mau jalan kaki dari Tugu Pahlawan Surabaya sampai kota Jakarta mau ketemu Pak Jokowi'.

"Saya cuma ingin ketemu sama Pak Jokowi dan bersalaman, saya enggak minta apa-apa. Kalaupun nanti di sana ditolak, akan saya tunggu bahkan jika sampai berbulan-bulan," kata Ahmatdi di Jalan Soegijapranata, Semarang, Jumat (16/11).

Pria warga Jalan Rembang Selatan nomor 61 A, Surabaya, itu memulai jalan kaki sejak Jumat (9/11) pukul 00.00 WIB. Sebagai penggemar berat, menurut dia, Jokowi memang tidak kekar tapi hatinya kuat. Ahmatdi juga ingin berpesan kepada Jokowi agar berhati-hati dengan orang-orang yang berniat untuk menjatuhkannya.

Soal alasannya berjalan kaki ke Jakarta, dia mengaku mendapat perintah untuk bertemu Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dari seorang wanita dalam mimpinya. "Di mimpi wanita itu menyuruh saya jalan ke Jakarta," ujar Ahmatdi di Jalan Soegijapranata, Semarang, Jumat (16/11).

Ahmatdi yang mengaku beristri dua hanya memberitahukan niatnya kepada istri pertama. "Istri pertama nyuruh naik pesawat. Istri kedua tidak saya beritahu, takut kalau tahu saya pergi ke Jakarta dengan jalan kaki bisa jadi pingsan. Nanti saya kasih tahunya kalau sudah sampai," kata Ahmatdi.

Setelah 11 hari berjalan, Ahmatdi pun akhirnya tiba di Balai Kota dan bertemu dengan sang idola. "Wajahnya dengan saya yah mirip. Karena ini 11 hari berjalan gak hitam, pastinya masih putih kayak saya," ujar Jokowi usai bertemu dengan Ahmatdi di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (20/11).

Jokowi sempat ngobrol dengan Ahmatdi. Jokowi pun bangga melihat perjuangan Ahmatdi yang rela berjalan kaki dari Surabaya hanya untuk bertemu dirinya.

"Katanya sudah 11 hari jalan ke Jakarta. Yah ini potret masyarakat kita, potret wong cilik," ujar Jokowi.

sumber: merdeka.com

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment