Namun entah dimana, sekarang, ada seorang wanita menunjukkan empat kartu pada suaminya dan berkata, “Kamu suka kulit telur, gading, krim atau tulang?” sang pria melihat ke kartu, semuanya berwarna putih, dan berkata, “Beuh, tidak ada bedanya.”
Eksperimen menemukan kalau apakah anda dapat atau tidak dapat membedakan warna tergantung pada apakah kamu memiliki namanya dalam bahasa kamu. Anda dapat melihat warnanya, ia hanya tidak tercatat dalam pikiran anda.
Sebuah studi membandingkan beberapa anak kecil dari Inggris dengan anak dari sebuah suku di Nambia. Dalam bahasa Inggris, anak kecil ini biasanya belajar 11 warna dasar (hitam, putih, abu-abu, merah, hijau, biru, kuning, pink, jingga, ungu dan coklat) namun dalam bahasa Himba, hanya ada lima warna. Sebagai contoh, mereka menggabungkan merah, jingga dan pink dalam satu nama, yaitu serandu.
Bila anda menunjukkan kartu pink pada balita Himba lalu menunjukkan kartu merah, lalu bertanya apakah kartunya sama? sang anak akan bilang ya – karena keduanya serandu. Sama juga bila anda menunjukkan kulit telur, lalu satu jam kemudian ditunjukkan tulang, dan ditanya apakah kartunya sama seperti sebelumnya. Sekarang, kembali, mereka bisa melihat warnanya; bila anda menunjukkan kedua kartu bersama-sama, berdampingan, balita Inggris maupun Himba akan mengatakan kalau keduanya berbeda. Namun tidak ketika mereka melihatnya satu demi satu.
Namun, jika anda mengajarkannya nama baru untuk warna tersebut, yang ini pink dan yang itu merah, baru mereka dapat membedakannya ketika melihat, tanpa harus ada pembanding. Sama seperti cewek atau penghias interior yang dapat segera mengetahui warna kulit telur yang berbeda dengan warna gading ketika ia melihatnya di dinding, sementara cowoknya tidak dapat membedakannya tanpa ditodong. Kemampuan mengenali warna datang dari namanya.
Begitu juga, bahasa Turki dan bahasa Rusia keduanya membagi warna biru menjadi dua warna berbeda, biru yang lebih gelap dan lebih terang. Karenanya penutur bahasa ini lebih baik dalam membedakan warna ketika ditanya “apakah biru yang ini sama dengan biru yang tadi?” Lebih aneh lagi, ketika menguji penutur Rusia, mereka menemukan kalau dengan memberikan mereka pengalihan verbal (meminta mereka mengingat sederetan angka sambil melakukan uji warna), keunggulan ini lenyap. Bagian otak yang mengolah bahasa lah yang membantu mereka “melihat” warnanya.


0 comments:
Post a Comment